Dekan FTI UMI Zakir Sabara Berbagi Pengalaman Trauma Healing Kepada 130 Anak Milenial se-Indonesia

Sebanyak 130 pemuda dari 34 provinsi transit di Makassar, Selasa (30/10/2018).

Di kota ini, mereka yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Kapal Pemuda Nusantara (KPN) 2018, menerima bekal sebelum menjalankan misi kemanusiaan di Teluk Palu, Sulawesi Tengah.

Di Hotel Artama, Jl Haji Bau, Makassar, para generasi milenial usia 16 hingga 21 tahun ini, dibekali motivasi dan praktik cerdas menjalankan program trauma healing bagi 214.925 pengungsi dan 12.568 korban luka akibat gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di tiga wilayah Teluk Palu (Palu, Sigi, Donggala).

Bersama sekitar 2.150 relawan kemanusiaan nasional dan internasional, yang hingga 32 hari pasca-bencana di Sulawesi Tengah, para anak milenial ini ikut andil dalam 60 hari tahap transisi darurat ke pemulihan pasca-gempa.

Program KPN 2018 ini adalah program tahun ke-31 pemerintah Indonesia.

Tahun 1987 silam, program rintisan Departemen Pendidikan Nasional dan oleh Ditjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Departemen Pendidikan Nasional, untuk tahun ini diamanatkan ke Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, melalui Deputi Pemberdayaan Pemuda Kemenpora.

Hadir dalam pembekalan ini yakni Deputi Pemberdayaan Pemuda Kemenpora Faisal Abdullah, Kepala Bidang Pariwisata dan Kelautan Kemenpora Chairil Adha, Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) Zakir Sabara HW, dan pihak dari BNPB.

Faisal mengatakan, KPN 2018 akan fokus pada penyelesaian trauma di Palu, Sigi, dan Donggala.

Sehingga, pemuda ini akan mendapatkan ilmu trauma healing dan cara menghibur anak-anak trauma di camp pengungsian.

“Pemuda ini akan fokus ke trauma healing, itulah sebabnya kita tampilkan pemateri yang sudah pernah turun ke sana, begitupun para relawan yang sudah pernah turun,” katanya.

Sehingga, para pemuda ini mendapatkan informasi terbaru tentang kondisi Palu, Sigi, dan Donggala, saat ini.

“Itulah kita datangkan pembicara seperti Pak Zakir untuk membahas pengalamannya selama menjadi relawan hampir sebulan di sana,” katanya.

Zakir memimpin mahasiswa FTI UMI untuk menjadi relawan selama 21 hari di Sulteng.

Tak hanya belajar trauma healing, mereka juga mengumpulkan donasi di Surabaya dan Makassar.

Mereka mengumpulkan Rp 2 juta donasi di Surabaya dan Rp 3 juta dari masyarakat Kota Makassar.

“Jadi mereka ke sana tidak hanya membawa bekal ilmu trauma healing tapi bawa juga bantuan material,” katanya.

Sementara itu, Zakir ikut andil dalam berbagi tips ilmu trauma healing kepada masyarakat Palu.

“Kami berbagi soal kegiatan yang telah dilakukan oleh relawan dan bantuan kemanusian mahasiswa FTI UMI sejak sebulan lalu atau 2 hari pasca gempa,” katanya.

Ia mengatakan, berbagi informasi terkini kondisi terkni dan program-program yang kemungkinan masih dibutuhkan warga yang masih berada di camp pengungsian.

Cinta Laut

Program KPN 2018 dimula, Sabtu (27/10/2018), di Surabaya, Jawa Timur.

Peserta ini terdiri atas putra-putri terbaik bangsa berkumpul dalam satu wadah kegiatan yang diinisiasi setiap tahunnya oleh Kemenpora.

“Pertama KPN 2018 ini untuk meningkatkan kapasitas pemuda di bidang kemaritiman dan memberi wawasan tentang kebaharian, sehingga pemuda-pemudi lebih cinta terhadap laut, pelestarian lingkungan hidup, dan menjadi ujung tombak,” ujar Ketua Pelaksana KPN 2018, Chairil Adha.

KPN 2018, ujar Chairil, mengambil tema khusus, yaitu Bakti Cinta kepada Negeri.

Karena itu, dalam kegiatan selama 20 hari ke depan nanti para peserta akan diterjunkan langsung dalam kegiatan membangun kembali Palu, Sigi, dan Donggala yang terkena bencana alam gempa dan tsunami.

Sesuai jadwal, hari ini rombongan KPN 2018 akan mengunjungi dua titik lokasi.

Pertama adalah Kampung Nelayan di Kenjeran dan kedua ialah Monumen Kapal Selam di wilayah Genteng.

“Di sana mereka akan ada workshop, aktivitas kebaharian, diberi wawasan kemaritiman, sehingga lebih mengenal lagi akan Indonesia yang kaya,” kata Chairil.(TribunTimur)